October 11, 2012

Ada yang berbeda, pelita menghilang di tengah kabut malam, hingga ia padam bersama malam yang semakin pekat, tapi apakah ia akan muncul beriringan dengan embun pagi nanti? Entahlah, ada yang berbeda


Cerita bersamamu akhirnya tetap kubawa, hingga tempat dimana awalnya ku jadikan tempat membunuh segala yang pernah terjadi di antara kita. Tempat buatku mencoba memulai sesuatu yang baru agar terhindar dari ingatan kisah denganmu. Tapi sekarang.... tempat ini bagai neraka hatiku, keegoisan membawaku ke tempat ini, tempat ini jauh darimu... 

Bagaimana tidak, saat keegoisan meliputi semua kebencian dalam hati, yang ada hanya keinginan setan untuk seegera mungkin melenyapkan yang dibenci, tanpa tau kebencian semata-mata hanyalah buah dari keegoisan yang bodoh!

***

October 05, 2012



SUNGAI & EMAS
       Berisik, memekakkan telinga. Suara itu berasal dari lokasi tambang yang tak jauh dari rumahnya, kira-kira 100 meter. Deru-deru mesin dari pertambangan emas yang sebagian milik ayahnya itu  meraung-raung tanpa komando. Kadang terdengar seperti suara di arena motor cross yang sudah pasti membuat telinga tidak nyaman.
       Bagi Aldi keadaan tersebut sudah sangat biasa. Setiap sore ia akan berkunjung kesana untuk “mandulang ameh” di tambang tersebut, terkadang beberapa temannya juga ikut bersamanya dengan alasan tentu saja juga mencari emas disana. Emas yang mereka dapat bisa mereka jual. Uangnya tentu mereka pergunakan untuk membeli kebutuhan mereka tanpa perlu menyusahkan orang tua masing-masing.
       Aldi sesungguhnya bukanlah anak yang mempunyai orang tua tak mampu. Bahkan ia berasal dari keluarga yang berkecukupan di desa tempat tinggalnya. Namun ia ditugaskan oleh ayahnya untuk ke tambang karena ayahnya mendapat jatah untuk mengambil seember tanah yang langsung dari lubang galian tambang itu yang berkemungkinan besar didalamnya terdapat emas.